weLcoMe..

HaVe FuN

Rabu, 12 Januari 2011

Tumor jinak dan kista yang ada di rongga mulut

TUMOR JINAK RONGGA MULUT
Tumor jinak rongga mulut merupakan suatu pertumbuhan tidak normal dalam mulut. 
Berdasarkan lokasinya tumor jinak rongga mulut dapat dijumpai pada :
1.      Sebagai suatu lesi pada jaringan gusi atau membran mukoperiosteal dari alveolar process maksila atau mandibula.
2.      Pada tulang kortikal maksila atau mandibula contohnya exostoses, torus palatinus, torus mandibula, chondroma, osteochondroma, osteoma, atau diffus hyperostosis
3.      Di dalam tulang kanselus maksila atau mandibula
4.      Tumor ditemukan diatas atau dibawah mukosa pipi
5.      Pada Lidah
6.      Pada dasar mulut
Tumor jinak diklasifikasikan berdasarkan:
1. Berasal dari jaringan epitel
Tumor yang berasal dari epitel adalah: Papilloma, Adenoma, Adenoma plemorfik
2. Berasal dari jaringan ikat
Tumor yang berasal dari jaringan ikat adalah: Fibroma, Periperial giant cell tumor, Central giant cell tumor, Lipoma, Hemangioma, Lymphangioma, Chondroma, Osteoma
3. Berasal dari jaringan otot
Tumor yang berasal dari jaringan otot adalah: Leiomyoma, Granular cell myoblastoma
4. Berasal dari jaringan syaraf
Tumor yang berasal dari jaringan syaraf adalah: Traumatic neuroma, Neurofibroma, Pigmented ameloblastoma 
5. Berasal dari kelenjar ludah
Tumor yang berasal dari kelenjar ludah adalah: Pleomorphic adenoma, Papillary cystadenoma lymphomatosum, Lympomatoid adenoma.
6. Tumor jinak ectodermal yang asalnya odontogenic
7.    Tumor jinak yang sifatnya non odontogenik yang sering menyerang rongga mulut adalah :
1. Ossifying fibroma
2. Fibrousdysplasia
3. Osteoblastoma
4. Osteoid osteoma
5. Chondroma
6. Osteoma
7. Central giant cell granulloma
8. Giant cell tumor
9. Idiopatic histiocytosis
10. Hameangioma of bone
11. Tori and exostoses
12. Coronoid hyperplasia

Faktor penyebab yang merangsang tumor jinak digolongkan dalam dua kategori, yaitu :
·       Faktor internal, yaitu faktor yang berhubungan dengan herediter dan faktor-faktor pertumbuhan, misalnya gangguan hormonal dan metabolisme.
·       Faktor eksternal, misalnya trauma kronis, iritasi termal kronis (panas/dingin), kebiasaan buruk yang kronis, dan obat-obatan.
Jika etiologi dihilangkan maka perkembangan tumor ini akan berhenti, karena seperti yang dijelaskan di awal neoplasia ini tidak mengalami mutasi gen yang membawa keabnormalan terus-menerus.

PATOGENESIS
Etiologi seperti yang disebutkan di atas, misalnya iritasi kronis, dapat mengganggu proses perbaikan jaringan yang mengalami iritasi. Iritasi yang awalnya memicu perbaikan jaringan rusak akan terus membuat proses perbaikan terus menerus. Sel-sel yang baru selesai diperbaiki, dipicu lagi untuk membelah sebelum sel benar-benar matur. Seharusnya sel mengalami proses pematangan terlebih dahulu sebelum ke pembelahan berikutnya. Akibatnya, terjadi penumpukan sel-sel normal hasil perbaikan tanpa adanya perubahan gen atau mutasi yang mengarah pada pembentukan neoplasia. Awal pertumbuhan jaringan baru abnormal ini tidak menimbulkan rasa sakit karena memang selnya normal dan tidak mengganggu jaringan sekitarnya. Sel-sel yang tumbuh akan berekspansif dan menekan jaringan di sekitarnya. Jaringan sekitar, yaitu sel-sel parenkim stroma jaringan asli, akan mengalami atrofi dari tekanan yang besar dari tumor sehingga membentuk kapsul dari tumor tersebut.


Kebiasaan buruk kronis yang tidak sesuai pola biologis ternyata dapat menyebabkan kekacauan metabolisme tubuh karena tidak mengikuti ritme tubuh seperti biasa dan dapat menyebabkan hormon-hormon metabolisme menjadi rusak. Jika tidak mengikuti pola tersebut, maka sistem metabolisme tidak akan sinkron dengan aktivitas manusia sehingga tidak dapat mempersiapkan tubuh dengan benar. Selain itu juga adanya gangguan hormonal dan metabolisme dalam hal perbaikan sel dapat menyebabkan tumor jinak. Suatu proses pembelahan sel tentut sudah mempunyai jadwal tersendiri untuk menentukan kapan sel tersebut membelah. Tetapi karena gangguan tersebut, jadwal natural tubuh akan kacau sehingga proses pembelahan sel berlangsung lebih cepat, misalnya dari 10 jam menjadi 9 jam. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa tumor jinak berlangsung lama karena siklus sel hanya mengalami pengurangan waktu tidak terlalu besar. Selanjutnya proses tersebut sama halnya dengan proses pada etiologi iritasi kronis seperti pada skema yang ada di atas.
Seperti yang kita ketahui, keadaan suhu akan mempengaruhi metabolisme tubuh dan sudah pasti akan mempengaruhi kecepatan siklus sel pula. Jika trauma thermal terjadi secara kronis, maka dapat menyebabkan tumor jinak.

1.      Macam-macam tumor jinak rongga mulut 
a. Tumor Odontogen
• Tumor yang berasal dari jaringan epitel odontogen tanpa melibatkan ektomesenkim odontogen
A. Ameloblastoma
Tempat predileksi
Biasanya terdapat pada daerah molar atau ramus mandibula, tapi bisa muncul di bagian manapun dari mandibula atau maksila. Pada maksila, daerah molar lebih serig terkena daripada daerah premolar atau gigi anterior.
Penampakan klinis
Gambar Klinis ameloblastoma pada rahang bawah kanan (pandangan lingual). Tumor meluas posteroanterior dari region premolar satu bawah kanan hingga ramus mandibula melibatkan processus condylaris dan coronoideus serta lesi yang perforasi ke sisi lingual (tanda panah). Mandibula diiris menjadi beberapa potongan untuk pemeriksaan histologis, terlihat tumor membentuk rongga (cystic spase) dengan gigi molar tiga yang terdesak hingga basis mandibula (insert).
Asimptomatik, kadang ditemukan pada anak-anak maupun dewasa, tapi predominan pada decade keempat dan kelima dari kehidupan (rata-rata 35-45 tahun).Gigi sekitarnya kadang goyah, karena terdapat resorbsi akar dan ada maloklusi.Pembengkakan destruktif, terjadi deformitas wajah,lesi perifer umumnya. Tidak menimbulkan rasa sakit sehingga dijumpai pada tingkatan yang sudah parah sehingga kerusakan tulang telah menyeluruh. Perluasan tidak cuma ke arah bukal saja tapi juga ke arah lingual.

Gambaran radiografi
Multilokular / unilokular radiolusen, dengan tepi tegas dan sklerotik. 
Histopatologi : Stroma fibrous dengan pulau-pulau atau massa dari epitelium yang berproliferasi, yang selalu menyerupai epitelium odontogenik dari organ email pada derajat tertentu. Dapat dijumpai varian histologis yang follicular, pleksiform, akantomatosa.
Tanda dan Gejala
Asimptomatik, tumbuh lambat, dapat bertumbuh sampai cukup besar tanpa disertai anak sebar.
Invasive keganasan local, dengan sedikit metastase.

B. Tumor odotogen epithel berkalsifikasi (Phinborg Tumor)
Tempat Predileksi
Pada regio molar-ramus mandibula.Mandibula dua kali lebih sering daripada maksila.
Penampakan Klinis
Terlihat seperti ameloblastoma, terjadi deformitas wajah (asimetri) tapi tidak ada maloklusi.Pembengkakan, terdapat lesi perifer, biasanya pada gingiva anterior.

Radiograf
lesinya unilocular atau multilocular. Radiolusensi dengan pulau-pulau yang radiopak, biasanya disebut sebagai honeycoumb. Secara keseluruhan lesi radiolusen, bila ditemukan daerah radiopak karena adanya kalsifikasi yang meningkat. Biasanya pada gigi yang impaksi. 

Histopatologi
Epitel polygonal, nuclei berbagai ukuran, sitoplasma eosinofil dan ditemukan ameloid sebagai produk sel.
Tanda dan Gejala
Invasif setempat,berkembang lambat, tidak metastase

C. Tumor odontogen skuamous
Tempat Predileksi
Berkembang pada prosesus alveolaris, sering pada regio anterior maksila dan regio posterior dari mandibula.
Penampakan klinis
• Terjadi pada decade kedua sampai ketujuh (rata-rata 40 tahun), tidak ada perbedaan gender
• Tenderness
• Melibatkan prosesus alveolar mandibula dan maksila
• Tidak ada predileksi sisi dan jenis kelamin
• Rasa sakit yang ringan karena pembengkakan gingival
• Gigi goyang
Gambaran radiografis
• Secara radiografi menunjukkan adanya gambaran kerusakan tulang yang bernbentuk triangular di sebelah lateral akar gigi.
• Kadang kala menunjukkan adanya kerusakan tulang berbentuk vertical
• Tepi lesi menunjukkan gambaran skeloris
• Diameter lebih besar dari 1,5 cm

D. Tumor odontogen sel bersih
Tempat Predileksi
Neoplasma yang jarang terjadi pada mandibula dan maksila. Ditemukan pada wanita umur > 60 tahun
Gambaran radiografis
Secara radiology, lesi radiolusen unilokuler dan multilokuler, dengan tepi dari radiolusen tersebut tidak mempunyai batas yang jelas atau tidak teratur.
Gambaran mikroskopis
Gambaran histologis anatomis dari tumor ini cenderung menunjukkan adanya sarang-sarang sel epitel dengan sitoplasma eosinopilik yang jelas. Sarang-sarang tersebut dipisahkan oleh lapisan tipis jaringan ikat berhialin. Sel-sel perifer menunjukkan susunan pollisade. Pada beberapa kasus juga ada yang menunjukkan pola yang mengandung pulau-pulau kecil dengan sel-sel epitel basaloid yang hiperkromatik di dalam stroma jaringan ikat.
Tanda dan Gejala
Dapat bermetastase ke paru-paru dan limfonodi regional. Agresif setempat,

Tumor-tumor epitel odontogen dengan melibatkan jaringan ektomesenkim odontogen
A.    Ameloblastic fibroma
Merupakan tumor campuran jaringan epitel dan jaringan ektomesenkim. Tumor ini tidak umum dan data yang ada sulit dievaluasi sebab beberapa lesi didiagnosis sebagai fibroma ameloblastik yang kemungkinan hanya tahap awal dan perkembangan odontoma.
Gambaran klinis :
• Fibroma ameloblastik cenderung terjadi pada penderita muda decade kedua tetapi kadang-kadang pada penderita usia setengah baya.
• Melibatkan laki-laki sedikit lebih umum dibandingkan perempuan
• Lesi yang kecil asimtomatik ,pada lesi yang besar menyebabkan pembesaran rahang .
• Sisi posterior mandibula merupakan lokasi yang paling umum ,yaitu sekitar 70% dari seluruh kasus terjadi pada sisi tersebut .

Gambaran radiografis :
• Lesi secara radiografi menunjukkan gambaran radiolusen unilokuler atau multilokuler dengan tepi yang jelas dan mungkin menunjukkan sklerotik .
• Sekitar 50% berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi.
• Pada lesi yang besar dapat melibatkan ramus asenden mandibula .

Gambaran mikroskopis :
Gambaran fibroma ameloblastik menunjukkan massa jaringan lunak yang keras dengan permukaan luar yang halus. Kapsul mungkin ada atau mungkin juga tidak ada. Secara mikroskopik mengandung jaringan mesenkim yang sangat banyak mirip dengan dental papil yang primitive yang bercampur dengan epitel odontogen. Sel epitel berbentuk panjang dan kecil dengan susunan yang beranastomase satu dengan yang lainnya, tetapi hanya mengandung sekitar dua sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar 

B.     Ameloblastic fibro odontoma
Tumor ini didefinisikan sebagai sebuah tumor yang gambaran umumnya adalah suatu fibroma ameloblastik, tetapi juga mengandung enamel dan dentin. Beberapa peneliti percaya bahwa ameloblastik fibro odontoma hanya suatu tahap dalam perkembangan suatu odontoma. Dalam beberapa kasus tumor dapat tumbuh progresif menyebabkan perubahan bentuk dan kehancuran tulang.
Gambaran klinis :
• Tumor ini biasanya ditemukan pada anak-anak dengan rata-rata usia 10 tahun.
• Dapat melibatkan kedua rahang.
• Tidak ada predileksi jenis kelamin.
• Lesi umumnya asimtomatik

Gambaran radiografis :
Secara radiografi tumor menunjukkan radiolusen unilokuler , mempunyai batas yang jelas dan jarang radiolusen multilokuler. Lesi mengandung sejumlah bahan berkalsifikasi dengan radiodensiti dari stuktur gigi. Bahan kalsifikasi di dalam lesi menunjukkan gambaran multiple, radiopak yang kecil atau massa yang bergabung menjadi keras.

Gambaran mikroskopis :
Secara mikroskopis menunjukkan gambaran yang identik dengan fibroma ameloblastik dan mempunyai lapisan jaringan (narrow cord) yang sempit serta pulau-pulau epitel kecil dari epitel odontogen dalam jaringan ikat primitive longgar mirip dental papilla .

C.     Odontoma 
Merupakan jenis yang paling umum dari tumor-tumor odontogenik. Tumor ini dipertimbangkan sebagai anomaly perkembangan (hamartomas) agak jarng disebut sebagai neoplasama yang sesungguhnya. Pada perkembangan awal dari lesi ini menunjukkan proliferasi epitel odontogen dan jaringan mesenkim, kemudian pada perkembangna selanjutnya diikuti pembentukan enamel, dentin, dan variasi dari pulpa dan sementum. Tumor ini mempunyai 2 tipe ,yaitu compound dan complex odontoma.
Compound odontoma mengandung struktur seperti gigi yang kecil dan banyak. Sedangkan complex odontoma mengandung massa yang besar dari enamel dan dentin dan tidak menyerupai gigi . 

Gambaran klinis :
• Sebagian besar odontoma ditemukan pada decade kedua kehidupan ,dengan rata-rata usia 14 tahun.
• Asimtomatik
• Sering ditemukan pada pemeriksaan radiograf rutin ketika memeriksa gigi yang tidak erupsi.
• Lesi kecil, jarang menjadi besar,apabila menjadi besar kadangkala sampai ukuran 6 cm dan menyebabkan ekspansi rahang.
• Lebih sering di maksila daripada di mandibula.

Gambaran radiografis :
• Compound odontoma menunjukkan kumpulan struktur yang mirip gigi dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi dikelilingi oleh daerah radiolusen yang tipis.
• Complex odontoma menunjukkan massa yang radiopak pada struktur gigi yang dikelilingi oleh radiolusen yang tipis. Sebuah gigi yang tidak erupsi seringkali dihubungkan dengan odontoma karena menghalangi gigi erupsi.
• Compound odontoma mengandung struktur yang multiple menyerupai gigi berakar satu di dalam matriks jaringan longgar. Jaringan pulpa mungkin terlihat di korona atau akar dari struktur yang menyerupai gigi tersebut.
• Complex odontoma mengandung tubular dentin yang matang. Pada celah dari masa lesi dapat dijumpai sejumlah matriks enamel atau enamel yang belum matang. Pulau pulau kecil dari sel ghost epitel pewarnaan eosinopilik dapat dijumpai pada sekitar 20% kasus complex odontoma. Kadankala kista dentigerous mungkin m uncul pada epithelial lining dari complex odontoma.

• Tumor yang berasal dari ektomesenkim odontogen dengan atau tanpa melibatkan epitel odontogen
A.    Fibroma Odontogen
Fibroma odontogen adalah tumor yang jarang ditemukan dan merupakan lesi yang menimbulkan kontroversi. Hanya kurang dari 50 kasus yang pernah dilaporkan.

Gambaran klinik
Fibroma-fibroma odontogen yang terjadi dan pernah dilaporkan melibatkan usia antara 9-80 tahun dengan rata-rata usia 40 tahun. Sekitar 60% terjadi pada maksila dan sebagian besar berlokasi di region nterior hingga region gigi molar pertama. Walaupun demikian kejadian di mandibula bias mencapai 50% dan berlokasi di region posterior (region premolar hingga region molar pertama). Ada sedikit kasus pada fibroma odontogen di mndibula yang berhubungan dengan molar tiga yang tidak erupsi. Fibroma-fibroma odontogen yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulakan keluhan. Jika lesi membesar menyebabkan ekspansi tulang pada region yang terlihat atau gigi-gigi menjadi goyang.

Gambaran radiografik
Secara radiografik fibroma-fibroma odontogen yang berukuran kecil cenderung menunjukan batas yang jelas, uniokuler, lesi-lesi yang besar cenderung menjadi radiolusen yang multiokuler. Beberapa lesi menunjukkan tepi yang sklerotik. Sering terjadi resobrsi akar yang terlibat dan lesi-lesi yang berlokasi di antar gigi-gigi menyebabkan akar-kara gigi yang satu yang lainnya menjadi divergen.

Gambaran mikroskopik
Fibroma odontogen menunjukkan gamabaran histologis yang bervariasi, hal ini yang menyebabbkan para penulis menjelaskan dalam dua tipe yaitu : 
1. fibroma odontogen sederhana. Lesi ini mengandung fibroblast-fibroblas stellate, seringkali tersusun dalam sebuah pola yang bergulung dengan fibril-fibril kolagen yang jelas dan dapat dipertimbangkan sebagai bahan dasar. Sisa-sisa epitel odontogen yang berupa focus-fookus kecil mungkin ada atau munkin tidak dijumpai. Kadang-kadang kala focus kalsifikasa distropik dapat dijumpai.
2. fibroma odontogen kompleks. Lesi ini menunjukan pola yang lebih kompleks yang mana seringkali mengandung jaringan ikat fibros selluler yang jelas dengan serabut-serabut kolagen yang tersusun dalam jalinan bundle. Epitel odontogen dalam bentuk sarang yang terisolasi.

B.     Odontogeni Myxoma/Myofibroma
Gambaran klinik 
Myxoma yang sesungguhnya jarang dijumpai, oleh karena itu myxoma di dalam rongga mulut disebut odontogenic myxoma. Merupakan suatu neoplasia odontogen yang tumbuh lambat, terlokalisir tetapi mempunyai sifat invasive dan agresif. Berasal dari jaringan ikat dental papilla. Umumnya terjadi pada predileksi usia decade ke 2 dan ke 3, dimana dapat melibatkan maksila dan mandibula baik korpus maupun ramus. Rasa sakit jarang dijumpai tetapi parasesti oleh karena terlibatnya nervus mandibularis dapat terjadi. Dalam pertumbuhannya di dalam rahang menyebabkan gigi geligi yang disekitar lesi dan tulang kortikal mengalami displacement dan ekspansi serta menipis.

Gambaran radiografik
Secara radiografi lesi menunjukkan gambaran radiolusen yang dipisahkan oleh gambaran tulang trabekular. Batas lesi dengan tulang sekitarnya tidak berbatas jelas.

C.     Cementoblas
Gamabaran klinis

Lesi ini umumnya asimtomatik karena tidak ada tand infeksi, dapat melibatkan seluruh gigi-geligi baik dirahan atas maupun dirahang bawah anterior atau posterior. Apabila lesi cukup besar secara klinis menunjukakan suatu ekspansi tulang sehingga menunjukakan pembengkakan rahang pada region gigi yang terlibat. Factor penyebab pasti tidak diketahui tetapi sering disebabkan oleh trauma pada daerah periodontal gigi.
Gambaran radiografik
Gamabran radiografi lesi menunjukkan suatu massa yang melekat ke apeks gigi penyebab. Batas lesi dengan jaringan sekitarnya dipisahkan suatu gamabran radiolusen yang tipis.

b. Tumor Non-Odontogen
A. Tumor jinak non-odontogen yang berasal dari epitel mulut
A. Papiloma skuamos
Papiloma squamous adalah suatu neoplasia jinak yang berasal dari epitel permukaan mukosa mulut. Dipertimbangkan sebagai neoplasia epitel jinak yang sangat umum terjadi di dalam mulut. Studi yang terakhir pada neoplasia ini dan lesi-lesi yang hampir sama yang terjadi di beberapa area di tubuh (seperti di kulit, laring, dan servik uteri) menunjukkan bukti peningkatan, yang mana papiloma sering terjadi akibat hasil dari suatu infeksi virus papiloma manusia (Human papiloma virus). Juga papiloma dipertimbangkan berhubungan dengan veruka vulgaris atau kutil.

Gambaran Klinis
Pada gambaran klinis di dapatkan suatu proliferasi pertumbuhan yang lambat dari epitel squamous berlapis disusun dalam proyeksi seperti jari, biasanya pertumbuhannya tunggal, sempit, dan struktur seperti bertangkai menghubungkannya ke mukosa rongga mulut di bawahnya. Perlekatan bentuk tangkai yang sempit ini adalah bentuk khusus dari lesi lesi pedunculated. Proyeksi seperti jari dapat dengan mudah terlihat pada sebagian besar specimen. Seringkali mirip dengan gambaran sebuah bunga kola tau bunga pakis.
Papiloma menunjukkan distribusi yang luas di dalam mulut, sebagian besar frekuensi kejadiannya di palatum, lidah, mukosa bukal/labial, dan gingival. Alasan mengapa papiloma-papiloma menjadi lebih umum terjadi di palatum lunak belum jelas. Papiloma dapat berwarna putih atau merah jambu, lunak , dan fleksibel pada palpasi, umumnya diameternya kurang dari 2 cm, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Walaupun secara umum tunggal, kadangkala mungkin terjadi multiple.

Gambaran Mikroskopis
Pada lesi ini didapatkan HPV (Human Papilloma Virus) meskipun tidak terdapat tanda-tanda terjadinya infeksi pada jaringan. Papilloma tidak berpotensi untuk menjadi ganas.
Menunjukkan proliferasi exophytic sel-sel epitel squamous sehingga menghasilkan lipatan-lipatan epithelium (berbentuk papillary-papillary yang panjang). Masing-masing proyeksi papillary didukung oleh jaringan ikat fibrous yang tipis dan mengandung pembuluh darah. Sel-sel uniform dan tidak menunjukkan atipia.
Penyakit ini lebih sering menyerang orang dewasa, dapat dideteksi secara klinis. Pada gambaran histology, terdiri dari stratified squamous epithelium yang didukung oleh jaringan ikat, saat terkeratinisasi, warnanya akan terlihat putih.

B. Veruka vulgaris
Veruka vulgaris merupakan kutil yang terdapat pada rongga mulut. Kutil ini biasanya terlihat pada anak kecil yang merupakan autoinokulasi dari kutil yang terdapat di tangan. 
Gambaran Mikroskopis
Pada gambaran histologist secara umum mirip dengan papiloma namun biasanya terdapat clear cell yang besar (koilocytes) dengan inti yang pyknotik dan keratohyaline yang menyolok dibagian lapisan superfisialdari prickle cells.
Gambaran klinis
Lesi ini adalah neoplasia jinak yang dihasilkan oleh infeksi HPV. Gambaran klinis veruka vulgaris yang khas yaitu tumor berbentuk nodular atau craterlike, umumnya berdiameter kurang dari 1 cm. Lokasi umum dari lesi ini adalah pada jari. Biasanya pasien tidak ada keluhan pada iritasi local ringan atau menengah.
Veruka vulgaris pada mulut sangat menunjukkan kemiripan dengan papiloma mulut. Lesi kemungkinan bertangkai atau menunjukkan perlekatan dasar yang meluas ke bawah mukosa dan lesi ini spesifik berwarna putih dengan permukaan kasar atau nyata, gambaran menyerupai jari terbentuk dengan jelas. Veruka vulgaris mulut harus dicurigai terjadi pada penderita anak-anak apabila adanya lesi-lesi mulut papilla putih yang banyak dan dijumpai adanya veruka vulgaris di kulit. Hal ini sebagian besar benar jika pasien mengakui menggigit-gigit kutil, khususnya yang berlokasi di jari. Itu sepertinya suatu kebiasaan yang menyebabkan virus menyebar ke mukosa mulut melalui inokulasi sendiri (autoinokulasi).

C. Keratoakantoma
Keratoakantoma adalah suatu kekhususan dan merupakan neoplasia jinak yang tidak umum, berasal dari epitel squamous berlapis. Meskipun relative jarang, tetapi penting dipelajari pada penyakit mulut, didasarkan atas klinisnya lesi ini menyerupai kanker kulit, predileksi kejadiannya pada kulit yang terkena sinar matahari, umumnya pada wajah dan bibir, dan mikroskopiknya menyerupai karsinoma epidermoid. Penyebab spesifik keratoakantoma tidak diketahui, bagaimanapun predileksi untuk terjadi pada kulit yang terkena matahari diduga kuat hubungannya dengan aktinik (radiasi sinar ultra violet) yang merusak jaringan. Lesi ini umumnya tunggal, terjadi di atas kulit pertengahan wajah termasuk pipi dan hidung, walaupun kadangkala juga melibatkan telinga. Hal ini patut diperhatikan bahwa 8% dari keratoakantoma terjadi pada daerah bibir yang terkena matahari. Lesi-lesi pada kulit sering sekali menimbulkan rasa agak sakit.
Gambaran Klinis
Gambaran klinis keratoakantoma mempunyai bentuk khusus yaitu berbentuk pusar, artinya mempunyai cekungan pada tengahnya dan tepinya menonjol. Tepi ini berbatas sangat jelas. Bagian tengah lesi ini agak menyerupai cangkir, kemungkinan berisi, permukaan kasar, keras, putih, dengan diwarnai keratin. Dalam banyak hal gambaran ini mirip dengan kanker kulit. Bagaimanapun keratoakantoma spesifik, yang mana biasanya tumbuh dengan ukuran terbesarnya (diameter antara 1 dan 2 cm) dalam waktu 6 bulan.
Keratoakantoma pada pemeriksaan palpasi kenyal walaupun lesi seringkali mempunyai sumbat keratin di tengah, keratoakantoma bebas dari ulserasi sehingga secara klinis seperti meneteskan air dan pembentukan kerak dan keropeng.

• Tumor Jinak non odontogen yang berasal dari jaringan ikat mulut
A. Fibroma
Fibroma merupakan suatu neoplasia yang berasal dari jaringan ikat fibros. Bagaimanapun, sebuah fibroma adalah istilah yang umum digunakan dalam kaitannya dengan lesi jaringan lunak yang sering dijumpai pada mukosa mulut-secara garis besar tidak dipikirkan sebagai suatu neoplasia, tetapi cukup jaringan fibros hiperplastik. Sebenarnya nama yang lebih akurat untuk gangguan ini adalah hiperplasia fibros.
Gambaran Klinis
Secara klinis lesi menunjukkan suatu benjolan yang kenyal dan dapat digerakkan dapat terjadi pada seluruh permukaan rongga mulut. Lesi ini pada pertumbuhannya tidak menimbulkan rasa sakit. Daerah yang peling sering mendpatkan trauma atau injuri seperti tergigit atau karena gesekan plat protesa dari gigi palsu.
Gambaran Mikroskopis
Gambaran histologis menunjukkan suatu proliferasi dari sel-sel fibrous yang mature dan padat, dengan pembentukan pembuluh darah yang kurang dan lesi dibatasi oleh kapsul fibrous.

B. Neurofibroma
Gambaran Klinis
Neurofibroma adalah suatu neoplasia jinak yang relatif tidak umum, secara histologis mengandung campuran dari sel-sel schwan neoplastik dan akson-akson yang tersebar. Neoplasia ini berkembang dari berkas syaraf dan batang syaraf yang besar, menghasilkan pemesaran tumor. Neurofibroma lebih lunak pada pemeriksaan palpasi dibandingkan mukosa normal sekitarnya dan sering digambarkan sebagai suatu konsistensi kistik atau menyerupai tekstur jaringan adiposa. Batas dengan jaringan normal sekitarnya kadangkala sulit ditentukan. Neurofibroma dapat menunjukkan variasi warna, antara warna pucat hingga agak kekuningan, dengan dilindungi warna yang bervariasi coklat. Kulit atau mukosa di atasnya kelihatan normal.
Neofibrima kutan dan mukosa dapat terjadi dalam dua keadaan yang terpisah. Lesi ini jarang sebagai lesi tersendiri, tanpa ada riwayat atau berhubungan dengan penyakit yang serupa. Kejadian yang lebih umum dari neofibroma adalah sebagai bagian dari gangguan dominan autosom neurofibromatosis. Penyakit ini juga diketahui sebagai penyakit von Recklinghausen’s pada kulit karakteristik umumnya adalah bersamaan dengan adanya pigmentasi ada kulit yang dikenal sebagai cafe au lait spot (menyerupai kopi susu) dan neurofibroma.
Neurofibroma dapat mempunyai variasi bentuk, antara lain: tumor-tumor bertangkai nodular terlokalisir; bersegmen, linier, ekspansi batang syaraf lobular (seperti kacang polong dan dahulu dikenal sebagai neurofibroma pleksiform); lesi besar, menimbulkan deformasi, mempunyai masa tumor; dan kecil, pedunculated, lesi-lesi kulit nodular. Semuanya ini menunjukkan bentuk-bentuk neurofibroma dan kadang-kadang di rongga mulut akan menunjukkan tumor-tumor yang demikian.
Perawatan dan Prognosis
Penyingkiran neurofibroma mempunyai sedikit masalah bagi pasien-pasien dalam keadaan yang seperti diatas. Eksisi untuk memperkuat diagnosis dan khususnya untuk melihat hasil suatu perawatan. Prognosis keseluruhan pada pasien dengan neurofibromatosis kurang baik. Pasien-pasien dengan kelainan ini dapat menderita tumor yang terus tumbuh dan berkembang sepanjang hidup mereka. Dalam beberapa kasus dampaknya dapat merusak kosmetik dan fungsional. Juga berpotensial untuk berkembang menjadi sarkoma neurogenik. Neoplasia ini dapat berkembang dalam neurofibroma awal dan lazimnya menimulkan tumor-tumor besar dan melibatkan banyak regio, terutama jika berlokasi dalam. Seperti neoplasia ganas, lesi ini sangat agresif dan memungkinkan bermetastasis dan menyebabkan prognosis buruk.
C. Neurilemoma/Schwannoma
Gambaran Klinis
Neurilemoma (Schwannoma) adalah neoplasia jinak jaringan syaraf perifer yang relatif tidak umum, perbedaan dengan neurofibroma adalah pada lesi ini menganding suatu proliferasi dari sel-sel schwan tanpa akson. Karakteristik lesi adalah lesi tidak berkapsul, palpasi kenyal dan warnanya antara kekuningan hingga putih. Tumor ini seringkali berlokasi agak dalam sehingga yang berhubungan dengan perubahan warna mungkin tidak kelihatan. Meskipun biasanya lesi ditemukan dengan diameternya kurang dari 2 cm, lesi yang telah lama berada dapat mencapai ukuran yang patut dipertimbangkan. Mukosa atau kulit diatas lesi kelihatan normal.
Seperti diketahui neurofibroma biasanya berhubungan dengan neurofibromatosis, sedangkan sebagian besar neurilemoma terjadi secara sporadis berupa tumor-tumor soliter. Meskipun begitu neurilemoma dapat terjadi pada lokasi yang bervariasi, lokasi yang paling umum di rongga mulut adalah lidah.
Perawatan dan Prognosis
Neurilemoma menunjukkan sedikit tendensi degenerasi ganas dan perawatannya adalah eksisi lokal.

D. Tumor sel granular
Gambaran Klinis
Tumor sel granular adalah tumor rongga mulut jinak yang relatif umum yang mempunyai suatu pola gambaran klinis yang khusus. Walaupun lesi ini jarang terlihat melibatkan lokasi dan organ yang luas, sebagian besar adalah lidah. Lesi ini biasanya tumbuh lambat, diameternya jarang melebihi 1-2 cm dan biasanya soliter. Jika lokasinya superfisial tumor menunjukkan warna kekuningan yang khas, sebaliknya lesi-lesi yang lokasinya lebih dalam tidak menunjukkan perubahan warnanya. Apabila tumor berlokasi pada lidah, mukosa lingual diatasnya mungkin normal, tetapi sering kali ada perubahan pada papilla lingual walaupun tidak begitu jelas, termasuk penurunan jumlah papilla dan lidah menjadi rata. Kekhasan tumor ini adalah lesi yang sangat kenyal pada pemeriksaan palpasi dan tidak ada keluhan. 
Gambaran Mikroskopis
Tumor sel granular menunjukkan suatu proliferasi sel-sel schwan, secara mikroskopik menunjukkan suatu sitoplasma granular yang aneh. Sebelumnya telah ada teori yang mengatakan asalnya lesi dari jaringan otot bergaris. Untuk hal ini nama mioblastoma sel granular telah pernah digunakan, sebuah nama yang kemudian digunakan secara luas. Disamping sel-sel granular, tumor ini seringkali dihubungkan dengan suatu proliferasi hiperplastik pada epitel mukosa diatasnya. Secara mikroskopik proliferasi epitel ini menunjukkan kemiripan dengan karsinoma epidermoid; tetapi lesi ini adalah jinak dan diarahkan sebagai pseudoepitheliomatus hyperplasia (PEH). Hal yang harus ditekankan bahwa perubahan epitel adalah secara klinis tidak berarti dan tidak berhubungan dengan kanker mulut.
Perawatan dan Prognosis
Perawatan untuk tumor sel granular terdiri dari eksisi konservatif. Eksisi tidak sempurna kemudian diikuti regresi spontan telah pernah dilaporkan. Kekambuhan setelah perawatan tidak umum terjadi.

E. Neuroma Traumatik
Gambaran Klinis
Neuroma traumatik (amputasi) muncul sebagai suatu pertumbuhan yang berlebihan bersifat bukan neoplasma dari axon dan merupakan jaringan parut fibros. Lesi ini muncul sebagai akibat terputusnya syaraf perifer, kemudian terbentuk jaringan parut, jaringan parut ini mengganggu pertumbuhan akson reparatif. Berkas akson yang terputus berusaha untuk berregenerasi tetapi tidak dapat menemukan jalur neurilemma yang diperlukan untuk menuntun syaraf tersebut kembali ke sisi-sisi reseptornya. Masa yang dihasilkan berupa jaringan fibros dan akson-akson menghasilkan sebuah nodul klinis yang biasanya berbatas jelas, kenyal dan seringkali menimbulkan rasa sakit bila dipalpasi.
Neuroma traumatik sering terjadi pada sisi yang mudah mengalami trauma fisik, seperti bibir, lidah dan mukosa bukal. Neuroma traumatik juga dilaporkan terjadi di daerah syaraf mentalis pada pasien-pasien ompong, dan juga terjadi setelah pencabutan gigi.
Perawatan dan Prognosis
Perawatan terhadap lesi ini adalah eksisi konservatif dan kekambuhan setelah perawatan jarang terjadi.

F. Lipoma
Gambaran Klinis
Lipoma adalah neoplasia jinak yang berasal dari jaringan adiposa. Lesi ini lazim di dalam jaringan subkutan kulit tetapi jarang terjadi di dalam rongga mulut. Lipoma paling sebagian besar ditemukan pada orang dewasa dan biasanya terjadi berupa tumor tunggal di punggung, bahu atau leher. Terkadang dijumpai sebagai lesi jamak. Lipoma rongga mulut biasanya tunggal, berbatas jelas dan lunak bila dipalpasi. Meskipun lesi berukuran kurang dari 2 cm, tetapi pernah diketahui lipoma mencapai ukuran yang patut dipertimbangkan. Lipoma seringkali menunjukkan warna kekuningan jika berlokasi di bawah mukosa mulut.
Gambaran histopatologis
Lipoma secara histologis menunjukkan suatu proliferasi sel-sel adiposa dalam suatu conective fibrous tissue, dengan inti yang terletak di perifer dan tidak menunjukkan adanya stroma, tetapi pembuluh darah bisa ditemukan diantara proliferasi sel sel adipos tersebut.
Dalam hal lain, yang paling umum lesi di rongga mulut mengandung jaringan adiposa yang matang, yang merupakan turunan dari lemak bukal. Hal ini menunjukkan tempat yang menyimpang, secara anatomi jaringan adiposa normal, secara klinis menghasilkan masa bernodul pada mukosa bukal. Masa ini secara sering dieksisi untuk tujuan diagnosa dan lesi ini tidak dipertimbangkan sebagai neoplasma yang sebenarnya.
Perawatan dan Prognosis
Perawatan lipoma terdiri dari eksisi konservatif dan jarang terjadi kekambuhan setelah eksisi sempurna
.

• Tumor Jinak Non Odontogen yang Berasal dari Nevus
Nevus pigmentasiatau tahi lalata adalah lesi yang sangat di kulit.Tetapi dapat juga dijumpai di jaringan lunak mukosa rongga mulut. Lesi ini merupakan proliferasi jinak dari sel-sel yang mengahasilkan melanin (pigmentasi endogen). Beberapa penulis mempertimbangkan sebagai neoplasia jinak, tetapi dapat menjadi ganas jika secara teoritis tidak terkontrol dan berpotensial pertumbuhan tidak terbatas. Beberapa peneliti mempertimbangkan nevi pigmentasi adalah berbatas, proliferasi terkendali pada sel-sel normal di daerah yang normal maupun yang abnormal. Pigmentasi pada jaringan lunak mukosa rongga mulut bisa saja disebabkan faktor eksogen / eksternal, misalnya tatoo pada kulit atau pigmentasi oleh bahan-bahan logam yang dikandung oleh material bahan tambalan gigi, misalnya amalgam.
Histogenesis nevus
Sel nevus adalah sel melanoblas yang pada keadaan normal berada pada lapisan basal epidermis.Sel dapat aatu tidak mengandung sel melanin, tetapi dapat membuat pigmen melanin. Pembentukan pigmen melanin yang berlebihan akan difagosit oleh sel makrofag yang dinamakan melanofor yang terletak di dermis baian atas.
Melanoblas dan melanofor dibedakan dengan menggunakan reagen DOPA (3-4 dihidroksi fenil alanin). Melanofor dengan DOPA bereaksi negatif, karena tidak membuat pigmen. Sementara melaoblas dengan DOPA mmeberi hasil positif karena mengandung DOPA oksidase.Pigmen melanin dapat dikenal dengan pulasan Fontana. Melanofor karena mengandung melanin dapat memberi reaksi positif dengan pulasn perak Fontana.
Sel nevus berproliferasi menembus lapisan basal masuk ke dalam dermis. Pada keadaan lanjut, kelompok sel nevus dalam dermis tidak berhubungan lagi dengan kelompok sel dalam epidermis. Proses menurunnya sel nevus ini dapat terhenti pada berbagai tingkatan sehingga terbentuk nevus jenis intradermal maupun intra mukosal, junctional, dan compound.

Gamban Klinis
Nevus intramukosal pada palatum, berwarna biru kehitaman dengan permukaan yang rata
Variasi pada bentuk- bentuk spesifik nevi pigmentasi diketahui terjadi dan bentuk-bentuk ini dibedakanan atas dasar gambaran klinis dan mikroskopis.Dua dari nevi ysng paling umum terjadi di kulit dan mukosa mulut, yaitu nevus intradermal (jika di dalam mulut lebih spesifik sebagai intramucosal nevus) dan nevus penghubung (juncional nevus).
Nevus intradermal merupakan nevus pigmentasi yang paling umum, melibatkan baik kuit maupun mukosa mulut. Paling umum adalah pada kulit dibandingkan dengan mulut, tetapi kekhususan lokasi lesi bermanifetasi dengan tidak adanya keluhan, linak, menonjol, berwarna, mulai merah jambu, cokelat terang sampai cokelat gelap, warnanya seragam, berbentuk kubah, permukaan nodul yang halus. Meskipun secara umum diameternya kurang dari 1 cm, tetapi kadang-kadang mungkin agak lebih besar dan bertangkai dan permukaannya kasar. Seperti lesi pada kulit yang seringkali menunjukkan tumbuhnya rambut.
Junctional nevus memberikan gambaran klinis agak berbeda, yaitu seluruhnya rata, tipe makula, permukaan halus, dan biasanya berwarna cokleat, pigmentasi merata.
Nevi pigmentasi rongga mulut sangat mirip dengan yang di kulit, dan yang menarik menunjukkan adanya predileksi untuk terjadi pada palatum keras dan gingiva. Sebagian besar (55%) nevi pigmentasi rongga mulut adalah tipe intramukosal, hanya 3% tipe junctional. Rata-rata 36% nevi rongga mulut adalah nevi biru. Nevi biru mempunayai beberapa kemiripan klinis terhadap nevus intradermal, dan yang apaling umum ditemukan di kulit. Lesi ini di mulut biasanya kecil, berwarna biru hingga hitam, warnanya seragam, rata, paling seering berlokasi di palatum.
Gambaran mikroskopik
Melanosis, pada permukaan membrane, terlihat peningkatan jumlah sel-sel melanin pada basal sel layer.
Pada saat ini, hanya pemeriksaan mikroskopis yang dipercaya untuk membedakan nevi jinak dengan melanona ganas. Gambaran histologis dari nevi pigmentasi dan melanoma jelas sangat beda, dimana pada nevi pigmentasi jinak terlihat adanya peningkatan proliferasi melanin di basal sel epithelium atau di submukosa.

Kesimpulan:
1. Macam-macam Tumor Jinak Rongga Mulut
• Tumor Odontogen
a. Tumor yang berasal dari jaringan epitel odontogen tanpa melibatkan ektomesenkim odontogen
 Ameloblastoma
 Tumor odotogen epithel berkalsifikasi (Phinborg Tumor)
 Tumor odontogen skuamous
 Tumor odontogen sel bersih
b. Tumor yang berasal dari jaringan epitel odontogen dan melibatkan ektomesenkim odontogen dengan atau tanpa pembentukan jaringan keras gigi
 Ameloblastik fibroma
 Ameloblastik fibro-odontoma
 Odontoma
c. Tumor yang berasal dari ektomesenkim odontogen dengan atau tanpa melibatkan epitel odontogen
 Fibroma Odontogen
 Odontogenic myxoma/myofibroma
 Cementoblastoma
• Tumor Non-Odontogen
1. Tumor jinak non-odontogen yang berasal dari epitel mulut
A. Papiloma skuamos
B. Veruka vulgaris
C. Keratoakantoma
2. Tumor jinak non-odontogen yang berasal dari nevus/pigmen
3. Tumor jinak non-odontogen yang berasal dari jaringan ikat mulut
A. Jaringan ikat fibrous
a. Fibroma
B. Jaringan pembuluh saraf
a. Neurofibroma
b. Neurilemoma/Schawannoma
c. Tumor sel granular
d. Neuroma Traumatik
C. Jaringan adiposa
a. Lipoma

KISTA PADA RONGGA MULUT
1.      Kerato Kista Odontogenik
Ciri Klinikal
Umur : 17-70 tahun
Umur paling banyak : 33 tahun
Laki-laki : Wanita = 1,7 : 1
Bangsa : Cina 57%, melayu 26%, india 17%
Lokasi
a.       Mandibula
b.      Maxila
Tanda & Gejala
a.       Bengkak secara perlahan
b.      Bisa sakit atau tidak
c.       Bias kena sinus atau tidak
d.      Kadang-kadang parastesi (mati rasa / kebas)
Kebanyakan dari OKC tidak mempunyai tanda atau gejala yang khas
Gambaran sinar X
Radiolusen yang ekolokul
Pinggir sklerotik
Kista ekstensif : multilokul
Mempunyai kaitan dengan gigi yang belum erupsi
Pemeriksaan
a.       Aspirasi : Mempunyai keju
b.      Analisa : protein kandungan kista
Kurang : 4,09/100ml (OKC)
Lebih : 4,09/100ml (bukan OKC)
c.       Biopsi
d.      Sinar x
Gambaran histology
Ciri histologi yg perlu utk mendiagnosa OKC adh :
1.      Lapisan epitelium berstrata sguamosa yg tipis dan seragam dg ketebalan  5 -8 sel
2.      Permukaan epitelium dilapisi parak eratin yg berkorugat/ berlipat-lipat / berkedut-kedut
3.      Sel-sel dilapisan basal berbentuk kuboidal/kolumnar dan berpalisade (picket tence dan tombstone)
4.      Tidak ada penghancuran rete
5.      Lapisan jaringan perantara yg tipis dan tanpa peradangan dan mudah (sering) terpisah dari lapisan epitelium
6.      Mempunyai baby cyst
Perawatan
  Enukleasi dg sempurna  : pengambilan kista sec utuh dg kapsulnya
Kelakuan OKC
  OKC mempunyai potensi untuk rekuren setelah perawatan
  Potensi rekuren 3 – 62%
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Rekuren
1.      Lap epitel OKC tipis, lembut dan mudah berpisah dg dinding kista : susah memastikan apakah enukleasi sempurna
2.      Kehadiran “ daughter”/ satelit kista (baby cyst) : pert kista baru
3.      Kadar aktifitas mitosis lap epitelium OKC yg agak tinggi
4.      Potensi rekuren OKC adalah potensi ekstrinsik (inherent) lap epitelnya
5.      Tingginya resiko rekuren pada OKC berkaitan dg sindrome “ gorlin goltz”
Gorlin – goltz sindrom
ciri- cirinya :
1.      Keadaan keturunan autosomal dominan
2.      Wanita lebih byk dr laki-laki
3.      Muka : asimetri
4.      Kulit : - karsinoma sel basal
     - kista dan tumor dermis
5. Anomali  gigi : - mikrodonsia
     - hipoplasia enamel
6. Anomali rahang dan rangka :
- prognatism mandibula
     - bibir sumbing dan langit-langit sumbing
     - frontal “bossing”
     - tulang rusuk bifida
7. Anaomali opthalmic : hipertelorisme
8. Anomali neurogenik : kurang akal
9. Anomali sexual : hipogonadisme
OKC yg berkaitan dg G-G menunjukkan :
1.      Byak kista satelit
2.      Tingginya perkembangan pulau-pulau epitel di kapsul
3.      Tingginya aktivitas mitosis
2.      Kista Periodontium Lateral
Ciri klinikal
1. Umur : 22- 85% (50 th)
2. Sex : laki-laki banyak dr wanita  = 2 : 1
3. Kawasan : PM ( mand) dan ant maksila
4. tanda-tanda dan gejala : asimptomatik
5. Bengkan tampa sakit
Patogenesis
  Etiologi asal usul sel :
1. epitelium enamel reduce
- perluasan folikel : kista dentigerus
            - berkaitan dg gigi yg erupsi : kista erupsi
            - ketinggalan kista di aspek lateral
2. sisi lamina dental
- perkembangan kel serous
            - diikuti oleh perubahan kista
Ciri histologi
1.      Lap epitelium :
        - sel gepeng tipis tampa keratin
        - ketebalan 1 – 5 sel
        - adanya plak epitelium
        - sel jernih dan kaya (byk) dg glikogen
            2. Dinding kista
        - jaringan perantara
        -ada hialin juksta epitel
        - sisa sel epitel odontogenik
        - sel radang kronik
        - berisi cairan berupa kolesterol
PERAWATAN : Enukleasi : jarang rekuren

3.      Kista Residual
Kista residual merupakan kista yang disebabkan oleh keradangan pada fragmen akar yang tertinggal saat pencabutan atau adanya sisa granuloma yang tidak terambil saat pencabutan. Pada pemeriksaan klinis didapatkan rahang tidak bergigi dengan sejarah pernah dilakukan ekstraksi dan pada gambaran radiologi ditemukan gambaran radiolusen. Secara histopatologis ditandai dengan adanya suatu rongga yang berlapiskan epitel yang tidak mengalami keratinisasi squamosa dan mempunyai ketebalan yang bervariasi. Secara khas dapat dilihat adanya proses radang dengan ditemukannya banyak sel neutrofil pada dinding kista. Kista residual adalah istilah yang sesuai karena tidak ada gigi yang tertinggal dimana dapat mengidentifikasikan lesi. Paling umum, hal ini merupakan sisa dari kista periapikal dari gigi yang telah dicabut. Histologinya merupakan epitelium skuamous stratified nondeskrip. Perawatan kista residual adalah dengan melakukan enukleasi dan pada umumnya tidak terjadi rekuren.
Gambaran Klinis
• Asymtomatik
• Sering ditemukan pada pemeriksaan RO daerah edentulous
• Mungkin terjadi ekspansi pada rahang atau nyeri pada kasus dengan infeksi sekunder
Gambaran Rontgen
Dalam pemeriksaan rontgen akan terlihat gambaran radiolusen berbatas jelas.
• Lokasi
 Terjadi pada kedua rahang
 Lebih sering pada mandibula
 Epicenter terletak pada lokasi periapikal
 Pada mandibula ; epicenter selalu diatas canal inferior alveolar nerve
• Batas dan Bentuk
Memiliki garis tepi cortical kecuali jika menjadi infeksi sekunder. Bentuk kista residual ini adalah oval atau bulat.
• Struktur Internal
Radiolusen, kalsifikasi bisa terdapat pada kista lama.
Kista residual dapat menyebabkan displacement gigi atau resorbsi. Kista bisa invaginasi pada antrum maxilla atau menekan saluran inferior alveolar nerve.
Perawatan
Enukleasi

Enukleasi merupakan proses pengangkatan seluruh lesi kista tanpa terjadinya perpecahan pada kista. Kista itu sendiri dapat dilakukan enukleasi karena lapisan jaringan ikat antara komponen epitelial (melapisi aspek anterior kista) dan dinding kista yang bertulang pada rongga mulut.
Lapisan ini akan lepas dan kista dapat diangkat dari kavitas yang bertulang. Proses enukleasi sama dengan pengangkatan periosteum dari tulang. Enukleasi pada kista seharusnya dilakukan secara hati – hati untuk mencegah terjadinya lesi rekuren.
Indikasi :
• Pengangkatan kista pada rahang
• Ukuran lesi kecil, sehingga tidak banyak melibatkan struktur jaringan yang berdekatan

Keuntungan :
• Pemeriksaan patologi dari seluruh kista dapat dilakukan
• Pasien tidak dilakukan perawatan untuk kavitas marsupialisasi dengan irigasi konstan
• Jika akses flap mucoperiosteal sudah sembuh, pasien tidak merasa terganggu lebih lama oleh kavitas kista yang ada

Kerugian :
Jika beberapa kondisi diindikasikan untuk marsupialisasi, enukleasi bersifat merugikan seperti :
• Fraktur rahang
• Devitalisasi pada gigi
• Impaksi gigi
• Banyak jaringan normal yang terlibat

Teknik :
• Insisi
• Flap mucoperiosteal
• Pembuangan tulang pada aspek labial dari lesi
• Osseous window untuk membuka bagian lesi
• Pengangkatan kista dari kavitas menggunakan hemostate & kuret
• Menjahit daerah pembedahan
• Penyembuhan mukosa & remodelling tulang, dimana terbentuk jaringan granulasi pada dinding kavitas yang bertulang dalam waktu 3-4 hari. Dan remodelling tulang akan terjadi selama 6 – 12 bulan.
4.      Mucocel
Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya.
Paling sering terjadi pada bibir bawah (60% pada seluruh kasus), dan dapat terjadi juga di mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut. Mucocele jarang terjadi pada bibir atas, palatum (langit-langit) lunak. Mucocele tidak disebabkan oleh obat obatan, tetapi murni karena adanya perubahan struktur atau pembuntuan kelenjar air liur/ saliva.
Penyebab
Umumnya disebabkan oleh trauma lokal, misalnya bibir yang sering tergigit pada saat sedang makan.Atau dapat juga disebabkan karena adanya penyumbatan pada duktus (saluran) kelenjar liur minor. Penyebab paling umum mucoceles adalah infeksi kronis, penyakit sinonasal alergi, trauma dan operasi sebelumnya.
Gambaran Klinis
¨  Pembengkakan yang berbentuk kubah dengan diameter 1-2 mm hingga lebih
¨  Sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa muda, namun dapat juga terjadi di segala usia termasuk bayi yang baru lahir dan orang lansia.
¨  Permukaan mukosa dapat terlihat kebiruan dan translusen.
¨  Mucocele dapat hilang timbul, yang kadang-kadang pecah sehingga cairannya keluar.
¨  Sebagian besar mucocele tidak terasa sakit, namun cukup mengganggu, terutama pada saat makan dan berbicara.
¨  Mucocele yang dangkal bisa pecah sendiri dan mengeluarkan cairan berwarna kekuning-kuningan. Sedangkan yang lebih dalam bisa bertahan lama.
5.      Kista Dentigerus
Kista dentigerous adalah kista yang terbentuk disekitar mahkota gigi yang belum erupsi. Kista ini mulai terbentuk bila cairan menumpuk di dalam lapisan-lapisan epitel email yang tereduksi atau diantara epitel dan mahkota gigi yang belum erupsi.
Penyebab
Beberapa literatur menyebutkan bahwa kista ini terbentuk oleh karen adanya tekanan gigi yang tumbuh terhadap folikel gigi ( salah satu bahan pembentuk gigi ) yang mengakibatkan terbendungnya aliran vena yang memicu terbentuknya eksudat (cairan keradangan) .
Gambaran Klinis
-          Berkembang disekitar mahkota gigi yang tidak erupsi/ gigi supernumerary
-          Pemeriksaan klinis menunjukkan suatu missing, pembengkakan yang keras (hard swelling) dan biasanya mengakibatkan asimetri wajah.
-          Khasnya pasien tidak merasakan nyeri dan ketidaknyamanan
-          Usia 20-50 tahun
-          Pria lebih banyak dari wanita
Gambaran RO
• Lokasi Epicenter kista tepat diatas mahkota gigi yang bersangkutan, biasanya M3 maxilla atau mandibula, atau yang paling sering terjadi adalah C maxilla. Kista melekat pada CEJ. Terkadang kista berkembang dari aspek lateral follicle, menempati area disamping mahkota.
• Batas Luar dan Bentuk
Secara khas memiliki batas luar yang tegas (well-defined cortex) dengan garis berkurva atau sirkular.
• Struktur Internal
Bagian internal radiolusen secara menyeluruh kecuali mahkota gigi.
• Pengaruh pada struktur sekitar
Kista ini cenderung memindahkan (menggerakkan) dan meresorbsi gigi geligi tetangganya. Biasanya pada direksi apical. Contohnya : M3 mandibula dapat digerakkan pada region condilar atau coronoid/ hingga cortex inferior dr mandibula.
Variasi kista dentigerous
- Central : mahkota terbungkus simetris
- Lateral : dibatasi folikel pada salah satu mahkota
- Circumfrential : - bila diseluruh gigi tampak terbungkus kista
Pada anak : 11% di Incicivus, 30% di caninus
Pada dewasa : terjadi di gigi M1, maksila incisor, warnanya biru ke abu2an pada mukosanya
Patogenesa
Kista dentigerous timbul di sekeliling gigi yang tidak erupsi yang menyebabkan kegagalan erupsi nantinya. Kista dentigerous bisa berasal dari ekstra folikullar ataupun intra follicular dengan akumulasi diantara epitel enamel yang berkurang dari enamel ataupun di dalam organ enamel itu sendiri.
Patofisiologi :
Sisa epitel pertumbuhan
à proliferasi tanpa invasi jaringan sekitar
à masa padat
à besar
à sel2 epitel di tengah kehilangan aliran darah ( nutrisi secara difusi terputus )
à sel ditengah mati
à rongga berisi cairan hipertonis
à transudasi cairan dari ekstra lumen ke dalam lumen
à terjadi tekanan hidrostatik à masa semakin besar ( continue)
à kadang parestesi karena ekspansi
à menekan saraf
à sakit.
Patologi
Kadang-kadang kista terangkat utuh ,tetapi lepih sering dinding tipis itu robek selama tindakan bedah. Kista yang mengelilingi gigi benar-benar merupakan folikel yang berdilatasi dan terlihat pada sambungan amelo-sementum. Pada kista dentigerous yang meradang dapat terjadi penebalan pada dinding kista.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi dari kista dentigerous di antaranya:
o    Kista yang terjadi pada rahang atas dapat menyumbat dan merubah posisi  maxillary antrumdan rongga hidung, terutama kista yang berukuran besar
o    Kista yang terjadi pada rahang bawah dapat menyebabkan parestesi dan dapat terjadi perubahan displastik
6.      Kista Erupsi
Merupakan kista dentigerous yang terjadi pada jaringan lunak.Tapi kista dentigerous yang terjadi biasanya pada sekeliling gigi yang erupsidanterletak di dalam jaringan lumak yang terjadi di atas tulang
Gambaran klinis
1.kista erupsi menyebabkan pembengkakan yang licin di atas gigi yang sedang erupsi,yang bisa mempunyai warna gingival yang normal,ataupun biru.
2. biasanya tanpa nyeri kecuali jika terinfeksi.
3. lunak dan berfluktuasi
4.kadang-kadang terdapat lebih dari satu kista .
Gambaran radiologi
Kista bisa membuat bayangan lunak,tetapi biasanya tidak melibatkan tulang ,kecuali kripta terbuka yang terdilatasi yang bisa terlihat pada radiograf.

Patogenesa
Patogenesa kista erupsi mungkin sangat serupa dengan kista dentigerous. Perbedaanya bahwa gigi pada kasus kista erupsi lebih terpendam di jaringan kunak gingival ketimbang di dalam tulang. Belum diketahui faktor-faktor yang sebenarnya menghalangi erupsi ke dalam jaringan lunak ini,tetapi adanya jaringan fibrosa yang sangat padat dapat bertanggung jawab.

Patologi
Pada daerah yang tidak meradang,dinding epitel kista khas berasal dari epitel enamel yang berkurang, yang terutama terdiri dari2-3 lapisan sel epitel gepeng dengan beberapa fokus, tempat ia mungkin sedikit lebih tebal.
Pengobatan
Kista erupsi diobati dengan marsupialisasi. Kubah kista di eksisi ,yang memaparkan mahkota gigi sehingga memungkinkan gigi tersebut erupsi.





Daftar pustaka
Sukardja, I Dewa Gede. 2000. Onkologi Klinik Ed-2. Surabaya : Airlangga University Press
Syafriadi, Mei. 2008. Patologi Mulut Tumor Neoplastik & Non Neoplastik Rongga Mulut Ed-1. Yogyakarta: Andi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar